Sebuah catatan kecil tentang hidup

Perjalanan ini
belum selesai.

Tentang seorang anak kampung yang sedang belajar melangkah jauh, membawa rindu, doa, dan harapan orang tua.

Baca ceritaku
Pelan-pelan,
tetap berjalan.
BANJARMASIN · 2025—SEKARANG
Gulir perlahan

Sedikit tentang saya

01 / PERKENALAN

Saya Ihsan.
Anak pertama,
yang sedang bertumbuh.

senang berkenalan :)

Nama saya Ihsan Fadhilah. Saya lahir pada 9 Februari 2007, tumbuh besar di kampung, dan menjadi anak pertama dari tiga bersaudara. Menjadi yang paling tua membuat saya sering memikirkan banyak hal—tentang keluarga, tentang tanggung jawab, dan tentang ingin menjadi seseorang yang bisa dibanggakan.

Tidak setiap hari punya cerita besar. Ada hari yang terasa biasa saja, ada juga hari yang membuat saya berhenti sebentar dan berpikir. Saya ingin menyimpan semuanya di sini: bukan karena hidup saya selalu luar biasa, tetapi karena hal-hal sederhana pun layak dikenang.

Lahir9 Februari 2007
KeluargaAnak pertama · 3 bersaudara
RumahKampung halaman

Langkah demi langkah

02 / PERJALANAN

Tidak semua langkah
terasa ringan.

2007 — MASA KECIL

Tempat semuanya bermula

Saya lahir dan besar di kampung. Dari sana, saya mengenal arti rumah—tempat keluarga berkumpul dan tempat yang selalu ingin saya tuju, sejauh apa pun nanti saya pergi.

Akar yang selalu dibawa

2025 — LANGKAH BARU

Mulai kuliah, mulai berjauhan

Pada tahun 2025, saya memulai perjalanan sebagai mahasiswa D3 Teknik Informatika di Politeknik Negeri Banjarmasin. Kuliah membawa saya ke pengalaman baru, sekaligus mengajarkan rasanya menjalani hari-hari jauh dari orang tua.

Berani mencoba hal baru

SEKARANG — SEMESTER 3

Belajar bertahan dan bertumbuh

Sekarang saya sedang menjalani semester 3. Tidak setiap hari mudah, tapi satu langkah kecil tetap berarti. Saya berusaha menikmati prosesnya, sambil menjaga alasan mengapa saya memulai.

Cerita masih berlanjut →

Hal yang paling terasa

Rumah kadang baru terasa dekat saat kita jauh.

Ada sedihnya ketika harus kuliah jauh dari orang tua. Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa—obrolan di rumah, kehadiran mereka, atau sekadar tahu ada keluarga di dekat kita—bisa terasa begitu dirindukan.

Saya tahu orang tua menaruh harapan besar agar saya berhasil. Harapan itu kadang terasa berat, tetapi juga menjadi pengingat untuk terus berusaha. Saya ingin membalas semua doa dan pengorbanan mereka, meski jalannya mungkin pelan dan tidak selalu mulus.

Untuk Bapak dan Ibu, dengan rindu.

03 / UNTUK SAYA DI MASA DEPAN

Kalau suatu hari terasa berat,
ingatlah alasanmu berangkat.

Tidak harus selalu hebat. Tidak harus selalu tahu jawabannya. Cukup terus melangkah, jaga diri baik-baik, dan jangan lupa pulang.

Kembali ke awal